
"Efektivitas disinfektan air tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan yang digunakan, tetapi juga oleh cara penggunaannya. Kesalahan seperti menentukan dosis berdasarkan perkiraan, mengabaikan waktu kontak, atau tidak memperhatikan kondisi air dapat mengurangi efektivitas proses disinfeksi dan meningkatkan risiko kontaminasi kembali."
Disinfektan air telah digunakan secara luas untuk membantu mengendalikan mikroorganisme pada berbagai sistem penyediaan air. Namun, penggunaan bahan disinfektan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan. Penyebabnya sering kali bukan karena kualitas produknya, melainkan karena cara penggunaannya yang kurang tepat. Sebagian orang menggunakan dosis berdasarkan kebiasaan. Sebagian lainnya langsung menambahkan disinfektan tanpa mengetahui volume air yang sebenarnya.
Ada juga yang menganggap proses selesai segera setelah disinfektan dimasukkan ke dalam tandon. Padahal, proses disinfeksi merupakan rangkaian langkah yang saling berkaitan. Kesalahan pada satu tahap saja dapat memengaruhi hasil akhir. Artikel ini membahas kesalahan yang paling sering terjadi saat menggunakan disinfektan air berdasarkan prinsip pengelolaan kualitas air yang dianjurkan oleh berbagai referensi ilmiah.
Mengapa Kesalahan Penggunaan Masih Sering Terjadi?
Ada beberapa alasan mengapa kesalahan penggunaan masih banyak ditemukan. Pertama, banyak orang menganggap proses disinfeksi cukup sederhana sehingga tidak memerlukan perhitungan. Kedua, informasi yang beredar di internet sering kali hanya membahas jenis produk tanpa menjelaskan prinsip dasar penggunaannya. Ketiga, setiap sistem air memiliki kondisi yang berbeda sehingga pengalaman di satu rumah belum tentu dapat diterapkan di rumah lain. Akibatnya, muncul berbagai kebiasaan yang sebenarnya tidak didasarkan pada pengukuran maupun evaluasi kondisi air.
12 Kesalahan Umum Saat Menggunakan Disinfektan Air
1. Menentukan Dosis Berdasarkan Perkiraan
Ini merupakan kesalahan yang paling sering terjadi. Sebagian orang menggunakan jumlah disinfektan yang sama setiap kali melakukan disinfeksi tanpa menghitung volume air yang ada di dalam tandon. Padahal, kebutuhan disinfektan selalu bergantung pada jumlah air yang akan diolah. Perhitungan volume merupakan langkah pertama sebelum menentukan dosis.
2. Menggunakan Kapasitas Maksimum Tandon sebagai Acuan
Label pada tandon biasanya menunjukkan kapasitas maksimum. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, tandon tidak selalu terisi penuh. Apabila volume air aktual jauh lebih sedikit dibandingkan kapasitas maksimum, penggunaan dosis berdasarkan kapasitas penuh dapat menyebabkan perhitungan menjadi tidak sesuai.
3. Tidak Membaca Petunjuk Penggunaan Produk
Setiap produk memiliki:
· Konsentrasi bahan aktif yang berbeda.
· Bentuk sediaan yang berbeda.
· Petunjuk penggunaan yang berbeda.
· Tujuan penggunaan yang dapat berbeda.
Menggunakan petunjuk dari produk lain atau hanya mengandalkan pengalaman dapat meningkatkan risiko kesalahan.
4. Menganggap Semua Disinfektan Sama
NaDCC, kalsium hipoklorit, natrium hipoklorit, dan jenis disinfektan lainnya sama-sama dapat digunakan dalam proses disinfeksi, tetapi karakteristiknya tidak identik. Perbedaan konsentrasi bahan aktif membuat kebutuhan penggunaan masing-masing produk juga dapat berbeda.
5. Tidak Memperhatikan Kondisi Air
Air yang sangat keruh, mengandung sedimen, atau memiliki kadar bahan organik yang tinggi dapat memengaruhi efektivitas proses disinfeksi. Pada kondisi tertentu, diperlukan pengolahan awal sebelum proses disinfeksi dilakukan. Mengabaikan kondisi ini dapat membuat hasil disinfeksi tidak optimal.
6. Menganggap Semakin Banyak Disinfektan Semakin Baik
Ini merupakan anggapan yang cukup sering ditemui.
Padahal, efektivitas disinfeksi dipengaruhi oleh keseimbangan antara:
· Dosis.
· Waktu kontak.
· Kualitas air.
· Jenis mikroorganisme.
Penggunaan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tidak otomatis meningkatkan efektivitas proses.
7. Mengabaikan Waktu Kontak
Banyak orang beranggapan bahwa disinfektan bekerja seketika setelah dimasukkan ke dalam air. Padahal, proses disinfeksi memerlukan waktu kontak, yaitu periode ketika bahan aktif bereaksi dengan mikroorganisme di dalam air. Lama waktu kontak bergantung pada jenis disinfektan, konsentrasi, kualitas air, dan tujuan penggunaannya. Apabila air digunakan sebelum waktu kontak yang dianjurkan tercapai, proses disinfeksi mungkin belum berlangsung secara optimal.
8. Tidak Membersihkan Tandon Sebelum Disinfeksi
Disinfeksi bukan pengganti pembersihan fisik. Apabila dasar tandon dipenuhi lumpur, lumut, atau endapan, penambahan disinfektan saja tidak akan menghilangkan kotoran tersebut. Endapan juga dapat melindungi sebagian mikroorganisme dari paparan disinfektan sehingga efektivitas proses menurun. Idealnya, pembersihan fisik dilakukan terlebih dahulu apabila kondisi tandon memang sudah kotor.
9. Menggunakan Disinfektan yang Sudah Tidak Layak Pakai
Produk disinfektan memiliki petunjuk penyimpanan dan masa simpan tertentu. Paparan panas, kelembapan tinggi, atau penyimpanan dalam wadah yang tidak sesuai dapat menurunkan kualitas bahan aktif.
Sebelum digunakan, periksa:
· Tanggal kedaluwarsa.
· Kondisi kemasan.
· Petunjuk penyimpanan dari produsen.
Menggunakan produk yang kualitasnya sudah menurun dapat memengaruhi hasil disinfeksi.
10. Mencampur Disinfektan dengan Bahan Kimia Lain
Sebagian orang mencoba meningkatkan efektivitas dengan mencampurkan beberapa bahan kimia sekaligus. Padahal, pencampuran bahan kimia tanpa pengetahuan yang memadai dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan, bahkan berpotensi menghasilkan gas berbahaya. Selalu gunakan disinfektan sesuai petunjuk produk dan hindari mencampurkannya dengan bahan lain kecuali memang direkomendasikan secara resmi.
11. Mengabaikan Kebersihan Sistem Penyimpanan Air
Tandon yang bersih hanyalah salah satu bagian dari sistem air rumah.
Kontaminasi juga dapat berasal dari:
· Tutup tandon yang tidak rapat.
· Ventilasi tanpa pelindung.
· Pipa yang bocor.
· Sambungan yang rusak.
· Tangki yang terbuka sehingga memungkinkan masuknya debu, serangga, atau hewan kecil.
Apabila sumber kontaminasi tidak diperbaiki, kualitas air dapat kembali menurun meskipun proses disinfeksi telah dilakukan.
12. Tidak Mengevaluasi Hasil Disinfeksi
Setelah proses selesai, sebagian orang menganggap pekerjaan telah selesai. Padahal, evaluasi tetap diperlukan, terutama apabila sebelumnya terdapat indikasi penurunan kualitas air.
Evaluasi dapat dilakukan melalui:
· Pemeriksaan visual terhadap kondisi air.
· Pemantauan perubahan bau atau warna.
· Pengujian kualitas air apabila diperlukan.
Pendekatan berbasis evaluasi membantu memastikan bahwa tindakan yang dilakukan memang memberikan hasil sesuai tujuan.
Cara Menghindari Kesalahan Saat Disinfeksi
Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko kesalahan.
· Hitung volume air sebelum menentukan dosis.
· Gunakan produk sesuai petunjuk resmi.
· Bersihkan tandon apabila terdapat endapan atau lumut.
· Perhatikan kondisi air sebelum melakukan disinfeksi.
· Ikuti waktu kontak yang dianjurkan.
· Simpan disinfektan sesuai petunjuk produsen.
· Hindari mencampur bahan kimia tanpa rekomendasi yang jelas.
· Lakukan pemeriksaan berkala terhadap sistem penyimpanan air.
Langkah-langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam menjaga efektivitas proses disinfeksi.
Referensi
World Health Organization (WHO). Guidelines for Drinking-water Quality, Fourth Edition, incorporating the first and second addenda.
World Health Organization (WHO). Water Safety Plan Manual.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Healthy Water – Drinking Water.
United States Environmental Protection Agency (EPA). Ground Water and Drinking Water.
NSF International. NSF/ANSI/CAN 60 – Drinking Water Treatment Chemicals – Health Effects.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.
Keberhasilan proses disinfeksi tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan yang digunakan, tetapi juga oleh ketepatan setiap langkah yang menyertainya. Menghitung volume air, menentukan dosis sesuai petunjuk, memperhatikan waktu kontak, serta menjaga kebersihan tandon merupakan bagian dari satu proses yang saling berkaitan.
Menghindari kesalahan-kesalahan umum tersebut dapat membantu proses disinfeksi berlangsung lebih efektif sekaligus mendukung pengelolaan kualitas air yang lebih baik. Pendekatan berbasis pengukuran dan evaluasi jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan penggunaan berdasarkan kebiasaan atau perkiraan.
Aquapress terus menghadirkan artikel edukatif berbasis referensi ilmiah mengenai kualitas air, sanitasi, dan disinfeksi agar masyarakat Indonesia memiliki sumber informasi yang akurat untuk menjaga keamanan air di rumah.