
"Air sumur dapat mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) apabila terjadi kontaminasi dari kotoran manusia atau hewan. Kehadiran E. coli digunakan sebagai indikator adanya pencemaran fekal dan menjadi tanda bahwa kualitas mikrobiologis air perlu dievaluasi lebih lanjut. Keberadaan bakteri ini tidak dapat diketahui hanya dari warna, bau, maupun rasa air."
Air sumur masih menjadi sumber air utama bagi jutaan rumah tangga di Indonesia. Namun, kejernihan air sering kali membuat banyak orang beranggapan bahwa air tersebut pasti aman digunakan. Padahal, salah satu jenis kontaminasi yang paling sulit dikenali adalah kontaminasi mikrobiologis.
Bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Air dapat terlihat bening, tidak berbau, dan tidak berubah rasa, tetapi tetap mengandung mikroorganisme apabila terjadi pencemaran dari sumber tertentu. Karena itu, keberadaan E. coli menjadi salah satu parameter penting dalam pemeriksaan kualitas air rumah tangga.
Artikel ini membahas apa itu E. coli, bagaimana bakteri tersebut dapat masuk ke dalam air sumur, faktor-faktor yang meningkatkan risikonya, serta cara mengenali kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Insight: Air yang tampak bersih belum tentu bebas dari bakteri. Penampilan fisik air tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal untuk menilai kualitas mikrobiologisnya.
Apa Itu E. coli?
Escherichia coli (E. coli) adalah kelompok bakteri yang secara alami hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan berdarah panas. Sebagian besar jenis E. coli tidak berbahaya dan merupakan bagian dari mikroorganisme normal di dalam usus.mNamun, dalam konteks kualitas air, keberadaan E. coli memiliki arti yang berbeda.
Bakteri ini digunakan sebagai indikator pencemaran fekal, yaitu tanda bahwa air kemungkinan telah terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan. Karena itu, ketika E. coli ditemukan di dalam sampel air, evaluasi terhadap sumber pencemaran perlu dilakukan.
Mengapa E. coli Bisa Masuk ke Air Sumur?
Kontaminasi tidak muncul begitu saja. Biasanya terdapat jalur yang memungkinkan bakteri dari lingkungan mencapai sumber air tanah.
Jarak Sumur Terlalu Dekat dengan Sumber Pencemar
Salah satu penyebab yang paling sering dibahas adalah jarak antara sumur dan sumber pencemar, seperti septic tank atau saluran pembuangan. Apabila konstruksi maupun kondisi tanah memungkinkan, mikroorganisme dapat berpindah bersama aliran air tanah.
Konstruksi Sumur yang Kurang Baik
Retakan pada dinding sumur, bibir sumur yang rusak, atau penutup yang tidak rapat dapat meningkatkan peluang masuknya air permukaan yang membawa kontaminan.
Genangan Air Setelah Hujan atau Banjir
Saat hujan deras maupun banjir, air permukaan dapat membawa berbagai material dari lingkungan sekitar. Jika masuk ke dalam sumur, kualitas mikrobiologis air berpotensi berubah.
Aktivitas Hewan di Sekitar Sumur
Kotoran hewan yang berada di sekitar sumber air juga dapat menjadi salah satu faktor risiko apabila terbawa masuk ke dalam sistem air.
Sistem Penyimpanan Air yang Tidak Terawat
Meskipun sumber air awalnya baik, tandon yang kotor, tutup yang terbuka, atau sistem distribusi yang tidak terawat dapat meningkatkan risiko penurunan kualitas air selama proses penyimpanan.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Kontaminasi
Tidak semua sumur memiliki tingkat risiko yang sama.
Beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan peluang terjadinya kontaminasi mikrobiologis.
Sumur Dangkal
Air tanah yang berada lebih dekat dengan permukaan umumnya lebih mudah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dibandingkan air dari lapisan yang lebih dalam.
Wilayah Rawan Banjir
Daerah yang sering mengalami banjir memiliki risiko lebih tinggi terhadap masuknya air permukaan ke dalam sumur.
Sanitasi Lingkungan Kurang Baik
Pembuangan limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan risiko pencemaran air tanah.
Tandon Jarang Dibersihkan
Endapan dan biofilm pada sistem penyimpanan air dapat memengaruhi kualitas air sehingga pemeriksaan dan perawatan rutin tetap diperlukan.
Air Tidak Pernah Diuji
Banyak rumah tangga menggunakan air sumur selama bertahun-tahun tanpa pernah melakukan pengujian kualitas air. Akibatnya, perubahan kualitas mikrobiologis dapat tidak terdeteksi.
Apakah E. coli pada Air Sumur Selalu Berbahaya?
Dalam konteks kualitas air, keberadaan E. coli tidak boleh diabaikan karena bakteri ini digunakan sebagai indikator pencemaran fekal. Artinya, jika E. coli ditemukan di dalam air, terdapat kemungkinan bahwa air telah terpapar kontaminasi dari kotoran manusia atau hewan.
Penting dipahami bahwa tidak semua jenis E. coli bersifat patogen (penyebab penyakit). Namun, keberadaan E. coli di dalam air menjadi sinyal bahwa mikroorganisme patogen lain juga berpotensi hadir.
Oleh karena itu, standar kualitas air di berbagai negara, termasuk pedoman dari WHO, menggunakan parameter E. coli sebagai salah satu indikator utama dalam evaluasi kualitas mikrobiologis air.
Bagaimana Cara Mengetahui Air Mengandung E. coli?
E. coli tidak dapat dikenali melalui pengamatan visual.
Air yang mengandung bakteri ini dapat tetap terlihat:
· Jernih.
· Tidak berbau.
· Tidak berwarna.
· Tidak memiliki rasa yang berbeda.
Satu-satunya cara untuk memastikan keberadaan E. coli adalah melalui pengujian mikrobiologi di laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium akan menganalisis sampel air menggunakan metode yang telah distandardisasi untuk mengetahui apakah terdapat indikator pencemaran fekal.
Kapan Sebaiknya Air Diuji?
Pengujian kualitas air sangat dianjurkan apabila:
· Sumur baru selesai dibuat.
· Terjadi banjir.
· Sumur mengalami kerusakan.
· Air berubah bau, warna, atau kekeruhan.
· Terjadi perubahan pada lingkungan sekitar sumur.
· Air digunakan sebagai sumber utama kebutuhan rumah tangga.
· Belum pernah dilakukan pengujian kualitas air dalam waktu yang lama.
Melakukan pengujian secara berkala membantu mengetahui perubahan kualitas air sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar.
Cara Mengurangi Risiko Kontaminasi
Pencegahan merupakan langkah yang paling efektif untuk menjaga kualitas mikrobiologis air.
Jaga Kondisi Konstruksi Sumur
Pastikan:
· Bibir sumur tidak retak.
· Penutup sumur rapat.
· Tidak ada celah masuknya air permukaan.
Rawat Sistem Penyimpanan Air
Periksa dan bersihkan tandon secara berkala.
Pastikan tidak ada:
· Endapan.
· Lumut.
· Biofilm.
· Serangga.
· Benda asing lainnya.
Perhatikan Kondisi Setelah Hujan atau Banjir
Setelah terjadi banjir atau hujan ekstrem, lakukan pemeriksaan terhadap sistem air karena kondisi lingkungan dapat berubah secara signifikan.
Lakukan Disinfeksi Bila Memang Diperlukan
Apabila hasil evaluasi atau pengujian menunjukkan adanya risiko kontaminasi mikrobiologis, proses disinfeksi dapat menjadi bagian dari pengelolaan kualitas air.
Namun, disinfeksi sebaiknya dilakukan setelah penyebab kontaminasi juga diperbaiki agar masalah tidak berulang.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Menilai Air Hanya dari Kejernihannya
Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari bakteri.
Tidak Pernah Melakukan Uji Kualitas Air
Banyak rumah tangga menggunakan air sumur selama bertahun-tahun tanpa mengetahui kondisi mikrobiologisnya.
Mengabaikan Kondisi Sumur Setelah Banjir
Perubahan lingkungan setelah banjir dapat meningkatkan risiko kontaminasi sehingga pemeriksaan sebaiknya dilakukan.
Mengatasi Gejala Tanpa Memperbaiki Penyebab
Melakukan pengolahan air tanpa memperbaiki konstruksi sumur atau sumber pencemaran dapat menyebabkan masalah kembali muncul.
Expert Tip: Jika kualitas air berubah setelah banjir, renovasi sumur, atau perubahan besar di lingkungan sekitar, pertimbangkan untuk melakukan uji kualitas air sebelum kembali menggunakan sumber air tersebut seperti biasa.
Referensi
World Health Organization (WHO). Guidelines for Drinking-water Quality, Fourth Edition, incorporating the first and second addenda.
World Health Organization (WHO). Water Safety Plan Manual.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Healthy Water – Drinking Water.
United States Environmental Protection Agency (EPA). Ground Water and Drinking Water.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.
American Public Health Association (APHA). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater.
Keberadaan E. coli pada air sumur tidak dapat dinilai hanya dari kejernihan, warna, bau, maupun rasa air. Sebagai indikator pencemaran fekal, bakteri ini memberikan sinyal bahwa kualitas mikrobiologis air perlu dievaluasi lebih lanjut melalui pengujian laboratorium.
Menjaga konstruksi sumur, merawat tandon, memperhatikan kondisi setelah hujan atau banjir, serta melakukan pengujian kualitas air secara berkala merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kontaminasi. Jika hasil evaluasi menunjukkan adanya masalah mikrobiologis, penanganan sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengolahan air, tetapi juga memperbaiki sumber penyebab kontaminasinya.
Aquapress berkomitmen menyediakan informasi edukatif berbasis referensi ilmiah mengenai kualitas air, sanitasi, dan pengelolaan air rumah tangga agar masyarakat Indonesia dapat memahami risiko mikrobiologis secara lebih objektif dan mengambil keputusan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan